Belajar dari Yosua 1: Ketika Kepemimpinan Berganti, Iman Tidak Boleh Berhenti

Spread the love

Belajar dari Yosua 1: Ketika Kepemimpinan Berganti, Iman Tidak Boleh Berhenti

JAKARTA — Peralihan kepemimpinan selalu menjadi momen krusial, baik dalam konteks bangsa, organisasi, maupun komunitas iman. Alkitab mencatat salah satu transisi kepemimpinan paling menentukan dalam sejarah Israel, sebagaimana tertulis dalam 1:1–9, saat tongkat estafet berpindah dari Musa kepada Yosua.

Teks ini kerap dibaca sebagai kisah rohani, namun para teolog menilai bahwa narasi tersebut juga memuat prinsip kepemimpinan, keberanian moral, dan keteguhan iman yang relevan lintas zaman.

Dari Duka ke Tugas

Firman Tuhan kepada Yosua dibuka dengan kalimat yang tegas: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang…” (Yos. 1:2). Pernyataan ini menandai berakhirnya satu era besar kepemimpinan Israel. Musa, tokoh sentral yang memimpin bangsa itu keluar dari Mesir, tidak lagi ada.

Namun secara teologis, pesan ini menegaskan bahwa rencana Allah tidak berhenti karena figur besar berlalu. Kesedihan atas kehilangan tidak boleh menghalangi ketaatan pada panggilan yang baru. Allah tidak meminta Yosua menunggu sampai merasa siap, tetapi memerintahkannya untuk melangkah.

Janji Allah dan Tanggung Jawab Manusia

Dalam Yosua 1:3–5, Allah menegaskan janji wilayah dan penyertaan-Nya. “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu.” Janji ini menunjukkan pola teologis yang konsisten: anugerah Allah mendahului tindakan manusia, namun tidak meniadakan tanggung jawab manusia untuk melangkah dengan iman.

“Kuat dan Teguh” sebagai Perintah Ilahi

Ungkapan “kuatkan dan teguhkanlah hatimu” diulang sebanyak tiga kali (Yos. 1:6, 7, 9). Dalam kajian teologi Perjanjian Lama, pengulangan ini menegaskan bahwa keberanian bukan sekadar motivasi psikologis, melainkan perintah Allah yang harus ditaati.

Keberanian Yosua bersumber dari janji penyertaan Tuhan: “Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau.” Artinya, otoritas kepemimpinan tidak bergantung pada figur pendahulu, melainkan pada kesetiaan Allah.

Firman Tuhan sebagai Ukuran Keberhasilan

Menariknya, ukuran keberhasilan yang Tuhan tekankan bukan kemenangan militer, melainkan ketaatan kepada Firman. Yosua diperintahkan untuk merenungkan Taurat siang dan malam agar hidupnya berjalan sesuai kehendak Tuhan.

Secara teologis, hal ini menegaskan bahwa keberhasilan sejati bukan semata hasil ekspansi atau pencapaian lahiriah, tetapi keselarasan hidup dengan kehendak Allah.

Relevansi Kekinian

Dalam konteks perubahan zaman dan transisi kepemimpinan yang terus terjadi, Yosua 1 menyampaikan pesan penting: penyertaan Tuhan tidak berubah meski situasi berubah. Iman, integritas, dan ketaatan kepada Firman tetap menjadi fondasi utama dalam menghadapi masa depan.

Kisah Yosua 1 menunjukkan bahwa kepemimpinan boleh berganti dan musim boleh berubah, tetapi iman dan ketaatan tidak boleh berhenti. Ketika manusia berlalu, Tuhan tetap bekerja dan menyertai umat-Nya.


Ditulis oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.Th., M.Pd.K


Tinggalkan Balasan