Atensi Dijual, Komedi Dipakai: Membaca Zaman Lewat Analogi Hasan Nasbi tentang Pandji
Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Jurnalis Senior Pewarna Indonesia
Di zaman ketika linimasa lebih menentukan arah opini dibanding ruang diskusi, kebenaran sering kali kalah oleh kebisingan. Bukan karena ia salah, melainkan karena ia kurang terdengar. Dalam konteks inilah sebuah podcast yang tayang dan ramai diperbincangkan pada awal Januari 2026 menjadi relevan. Di sana, Hasan Nasbi menyampaikan analogi sederhana namun telak ketika membahas Pandji Pragiwaksono: pertunjukan adalah jualan. Semakin kencang, semakin unik, semakin “aneh”, semakin besar peluang mendapatkan atensi. Dan hari ini, atensi adalah mata uang paling mahal.
Analogi itu tidak lahir dari ruang hampa. Hasan mencontohkan pedagang pasar yang berteriak agar pembeli menoleh, atau sopir angkot yang memutar musik keras demi menarik penumpang muda. Logikanya sama: di tengah keramaian, diam berarti hilang. Dalam lanskap digital yang padat konten, komedi—terutama yang provokatif—menjadi alat paling efektif untuk memotong kebisingan.
Ekonomi Atensi dan Realitas Industri Kreatif
Pandangan Hasan sebenarnya sedang membuka tabir ekonomi atensi. Konten hari ini tidak hanya dinilai dari kualitas gagasan, tetapi dari kemampuannya memancing reaksi. Tawa, amarah, perdebatan—semuanya adalah indikator keterlihatan. Dalam sistem seperti ini, pelaku kreatif rasional akan membaca pasar: apa yang keras akan terdengar; apa yang lembut berisiko tenggelam.
Kisah yang disampaikan Hasan—tentang sebuah podcast yang telah memberi panggung, namun materinya justru diolah kembali menjadi bahan stand-up—menguatkan satu fakta: panggung adalah bahan baku. Etis atau tidak, pasar atensi sering menempatkan etika di urutan kedua. Yang utama adalah daya jangkau dan perbincangan.
Namun di titik ini, kritik patut diajukan. Ketika atensi menjadi tujuan utama, makna berisiko tereduksi. Komedi yang semula menjadi medium refleksi sosial dapat bergeser menjadi sekadar provokasi. Kritik berubah menjadi sensasi. Ini bukan serangan personal terhadap siapa pun, melainkan diagnosis atas sistem yang memberi ganjaran pada volume, bukan pada kedalaman.
Kebebasan, Etika, dan Tanggung Jawab Publik
Indonesia menjunjung kebebasan berekspresi. Namun kebebasan itu selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Budaya kita sejak lama memberi rambu agar suara tidak melampaui makna. Filsafat Jawa mengingatkan, “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”—martabat seseorang dinilai dari tutur kata dan sikap, bukan dari seberapa keras ia bersuara. Artinya, kualitas pesan tidak ditentukan oleh volume, melainkan oleh ketepatan dan niat baik.
Prinsip tepa salira mengajarkan kepekaan terhadap dampak sosial. Dalam komedi dan opini publik, ini berarti kebebasan berekspresi sepatutnya disertai kesadaran akan konsekuensi. Lantang boleh, tetapi empati tidak boleh hilang. Dari Sunda, falsafah silih asah, silih asih, silih asuh menekankan kritik yang membangun—saling mengasah pikiran, mengasihi sesama, dan mengasuh ruang publik agar tetap sehat.
Peribahasa “rame ing gawe, sepi ing pamrih” memberi kontras tajam dengan praktik ekonomi atensi hari ini. Idealnya, kerja keras dilakukan tanpa pamrih berlebihan. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya: ramai pamrih, sepi makna. Pepatah “alon-alon waton kelakon” mengingatkan bahwa tidak semua harus cepat dan kencang; yang penting sampai dan bermakna.
Peran Publik: Penentu Arah
Pandangan Hasan Nasbi jujur memotret realitas industri kreatif: ini soal perut. Bukan konspirasi ideologis, bukan agenda tersembunyi. Siapa yang pelan tenggelam; siapa yang lantang didengar. Tetapi ada satu aktor yang sering dilupakan: publik. Penonton tidak sepenuhnya pasif. Pilihan konsumsi kita—apa yang kita tonton, bagikan, dan perbincangkan—ikut menentukan arah pasar atensi.
Jika kebisingan terus diberi ganjaran, kebisingan akan dianggap kualitas. Jika kedalaman diberi ruang, makna akan bertahan. Di sinilah tanggung jawab kolektif bekerja.
Penutup
Apa yang disampaikan Hasan Nasbi dalam podcast yang tayang pada awal Januari 2026 sesungguhnya adalah cermin zaman: atensi dijual, komedi dipakai. Tantangannya bukan pada pelaku konten semata, melainkan pada ekosistem—algoritma, pasar, dan pilihan publik. Dalam demokrasi opini, yang keras sering menang. Namun sejarah biasanya mencatat yang bertahan—bukan yang paling bising, melainkan yang paling bermakna.


