Allah Menghadirkan Orang Baik di Tengah Kekecewaan

Spread the love

Allah Menghadirkan Orang Baik di Tengah Kekecewaan

Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
GPIAI Filadelfia Bogor

Pelitakota.id Tidak semua luka datang dari musuh. Ada luka yang justru lahir dari orang yang pernah kita percaya, hormati, dan harapkan. Kekecewaan semacam ini sering kali tidak berisik. Ia datang perlahan, menetap di hati, lalu menggerus kepercayaan. Banyak orang mampu berdiri setelah jatuh karena kegagalan hidup, tetapi limbung ketika harus menghadapi pengkhianatan relasi.

Di titik inilah iman diuji, bukan oleh penderitaan semata, melainkan oleh pertanyaan yang jauh lebih dalam: masihkah Allah hadir ketika manusia mengecewakan? Ketika orang yang kita andalkan pergi, ketika janji manusia runtuh, dan ketika doa terasa sunyi, iman tidak lagi tinggal di wilayah teori—ia masuk ke ruang pengalaman yang nyata dan menyakitkan.

Namun Alkitab menunjukkan satu pola yang berulang dan menguatkan: Allah tidak pernah membiarkan kekecewaan menjadi ruang kosong. Di tengah patah hati, Ia bekerja dengan cara yang sering luput dari perhatian—menghadirkan orang-orang baik sebagai tanda bahwa kasih-Nya tetap berjalan, meski relasi manusia runtuh.

Pemazmur pernah bersaksi, “Sekalipun ayah dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku” (Mazmur 27:10). Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kehilangan figur keluarga, tetapi tentang pengalaman universal manusia: ketika sandaran manusia gagal, Allah sendiri mengambil alih peran sebagai Penopang.

Dalam kisah Alkitab, Yusuf adalah contoh nyata. Ia dikhianati oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara. Namun di setiap fase kekecewaan, Allah menghadirkan orang-orang yang tepat—kepala penjara, pejabat Mesir, bahkan Firaun—sebagai alat pemulihan. Yusuf akhirnya mampu berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” (Kejadian 50:20).

Kekecewaan tidak selalu berarti Allah absen. Justru sering kali itu tanda bahwa Allah sedang memindahkan kita dari ketergantungan pada manusia menuju kepercayaan yang lebih dewasa kepada-Nya. Rasul Paulus mengingatkan, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia… Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN” (Yeremia 17:5,7). Ayat ini bukan ajakan untuk membenci manusia, melainkan panggilan untuk menempatkan harapan pada sumber yang tidak pernah mengecewakan.

Allah menghadirkan orang-orang baik bukan untuk menggantikan posisi-Nya, melainkan sebagai bukti bahwa Ia tetap bekerja. Kadang orang itu datang sebagai sahabat yang mendengar tanpa menghakimi. Kadang sebagai pemimpin yang jujur. Kadang sebagai pribadi sederhana yang hadir tepat waktu, tanpa banyak kata. Mereka adalah perpanjangan tangan kasih Allah di tengah luka yang belum sembuh.

Yesus sendiri memahami kekecewaan relasi. Ia dikhianati Yudas, disangkal Petrus, dan ditinggalkan murid-murid-Nya. Namun dalam semua itu, Ia tidak menutup diri terhadap kasih. Ia tetap membuka ruang pemulihan. “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu” (Yohanes 14:18), janji ini menjadi penghiburan bagi setiap orang percaya yang merasa ditinggalkan.

Karena itu, ketika kita kecewa oleh seseorang, jangan biarkan kepahitan mengambil alih hati. Biarkan Allah bekerja dengan cara-Nya. Bisa jadi, kekecewaan itu adalah pintu bagi relasi yang lebih sehat, iman yang lebih matang, dan pengenalan yang lebih dalam akan kasih Tuhan. “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Roma 8:28).

Allah tidak selalu menghapus luka seketika, tetapi Ia setia mengirimkan penolong di sepanjang jalan. Di tengah kekecewaan, kehadiran satu orang baik sering kali cukup untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan belum selesai bekerja.

Dan mungkin, melalui luka yang kita alami, Allah juga sedang membentuk kita—agar kelak, kita menjadi orang baik yang dihadirkan-Nya dalam hidup orang lain.


Tinggalkan Balasan