Alfian dan Catatan di Ujung Fajar

Spread the love

Alfian dan Catatan di Ujung Fajar

Pelitakota.id “Masih mau diterbitkan?”
Suara itu datang dari ujung ruangan, pelan tapi mengandung peringatan.

Alfian menoleh. Redaksi hampir kosong. Jam dinding berdetak seperti palu sidang yang tak pernah benar-benar adil. Pukul dua dini hari. Lampu neon menggigil, barangkali lebih jujur daripada sebagian manusia.

“Kalau tidak diterbitkan,” jawab Alfian, “besok kita akan menulis apa? Cuaca dan peresmian?”

Rekan itu tersenyum pahit. “Kau tahu risikonya.”

“Risiko terbesar,” kata Alfian sambil menatap layar, “adalah pura-pura tidak tahu.”

Jarinya menekan tombol publish. Tidak ada musik heroik. Tidak ada sorak. Hanya bunyi klik yang terdengar seperti pintu sel ditutup dari luar.

Telepon bergetar. Satu pesan masuk.
Berita bagus. Tapi kau terlalu berani.

Alfian tertawa kecil. “Di negeri ini,” gumamnya, “keberanian sering dianggap kesalahan prosedur.”

Ia bersandar. Ingatannya melompat ke wajah ayahnya—buruh dengan kuku hitam dan upah yang selalu kurang. Dulu ayahnya pernah berkata,
“Kita ini kerja bukan buat hidup layak, tapi buat bertahan.”

Ayahnya mengeluh ke mana-mana. Tak ada yang menulis. Tak ada yang mencatat. Lalu ayahnya mati—tanpa koreksi, tanpa klarifikasi.

Sejak itu Alfian paham: diam adalah bentuk kerja sama paling murah dengan ketidakadilan.

Ia teringat seorang ibu yang pernah diwawancarainya.
“Kalau nanti ditulis, hidup saya jadi lebih baik, Mas?”
Alfian terdiam.
“Saya tidak bisa janji apa-apa, Bu.”
Ibu itu mengangguk. “Tidak apa-apa. Asal jangan dihapus saja.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari ancaman mana pun.

Malam-malam Alfian dipenuhi suara-suara yang tak mau tidur. Pekerja yang berkata,
“Kami ini bukan minta kaya, Mas. Kami cuma minta tidak diperlakukan seperti kesalahan.”

Seorang pejabat pernah berkata sambil tersenyum rapi,
“Beritanya bisa dilunakkan, kan? Demi stabilitas.”

Alfian menatapnya dan menjawab pelan,
“Yang tidak stabil itu keadilan, Pak. Bukan kalimat saya.”

Tulisan malam ini hanya satu paragraf. Pendek. Dingin. Tanpa bumbu. Namun kejujuran, ia tahu, tidak butuh dekorasi. Dalam hitungan jam, tulisannya menyebar. Ada yang berkata ia pahlawan. Ada yang berkata ia pengkhianat.

“Lucu,” kata Alfian pada dirinya sendiri, “orang yang membongkar kebusukan selalu dituduh mencium bau.”

Ancaman berdatangan. Tekanan makin rapi. Sunyi makin kejam.
Seorang teman mengirim pesan:
Berhentilah. Kamu bukan siapa-siapa.

Alfian membalas singkat:
Justru karena bukan siapa-siapa, saya harus menulis.

Fajar merangkak masuk ke redaksi. Cahaya pucat jatuh di meja kerjanya seperti pengakuan yang terlambat. Alfian menutup laptop. Tubuhnya letih, batinnya penuh luka kecil yang tak akan sembuh.

Namun ia berdiri.

“Besok menulis lagi?” tanya satpam yang baru datang.
Alfian tersenyum getir.
“Kalau ketidakadilan masih lembur, masa saya pulang cepat?”

Ia melangkah keluar. Pagi basah menyambutnya tanpa janji.
Di belakangnya, redaksi kembali sunyi.
Di depannya, dunia tetap keras.

Dan Alfian tahu—di negeri yang sering alergi pada kebenaran, menulis jujur adalah bentuk keberanian paling sunyi.


Tinggalkan Balasan