AIR YANG TIDAK KERING, BENIH YANG TUMBUH SUBUR: BERKAT TUHAN DARI KEJUJURAN

Spread the love

Pelitakota.id Bayangkan seorang petani yang telah menanam sawah di lereng bukit selama bertahun-tahun. Setiap pagi dia bangun sebelum matahari terbit, membersihkan saluran air agar alirannya lancar, menyiangi rumput liar yang bisa mengganggu pertumbuhan padi, dan merawat setiap rumpun dengan penuh cinta.

Suatu musim kemarau panjang datang, dan sumber air di desa mulai surut. Banyak petani yang khawatir akan gagal panen, sehingga beberapa di antaranya mengambil jalan pintas: mereka menyumbat saluran air tetangga agar air bisa mengalir lebih banyak ke sawah mereka, atau bahkan mencuri benih dari toko pertanian karena tidak punya uang untuk membelinya.

Namun sang petani itu tidak mau melakukannya. Meski hatinya juga gelisah, dia tetap memastikan air yang masuk ke sawahnya hanya sesuai dengan bagian yang dialokasikan – karena dia tahu, air yang diambil lebih dari haknya pasti akan kering di tengah jalan. Dia juga tetap membeli benih dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, meskipun harus menghemat biaya lainnya – karena dia percaya, benih yang bukan miliknya tidak akan tumbuh dengan baik di tanahnya.

Hari demi hari dia terus merawat sawahnya dengan ikhlas dan jujur. Lalu, ketika semua orang sudah mulai menyerah mengharapkan hujan, air mata air kecil yang dulu hanya cukup untuk minum ternyata mulai memancar lebih deras – mengalir tepat ke saluran sawahnya tanpa mengganggu bagian lain. Ketika musim panen tiba, sawahnya menghasilkan gabah yang lebih banyak dan berkualitas lebih baik dibandingkan yang lain.

Ketika teman-temannya bertanya bagaimana bisa demikian, dia hanya tersenyum dan berkata: “Berkat Tuhan tidak salah alamat.”

Cerita ini bukan sekadar dongeng. Ia adalah perumpamaan yang menunjukkan bahwa kejujuran seperti air yang jernih yang tidak pernah kering dan sikap tidak mengambil yang bukan hak kita seperti benih yang cocok yang akan tumbuh subur – membawa berkah yang benar-benar datang dari Tuhan. Bahkan di berbagai budaya, nilai ini sudah dikenal lama: Pribahasa Minahasa mengatakan, “Wae tu tombung ndao ndo, wae tu lanang ndao ma” (“Air yang jernih mengalir dengan sendirinya, orang yang jujur akan diterima oleh semua orang”), dan pribahasa Tionghoa berbunyi, “Chi xin shi cheng” (“Hati yang tulus akan membawa kesuksesan”)…

Seperti air yang jernih yang mengalir terus-menerus tanpa pernah kering, kejujuran adalah aliran kehidupan yang membawa kebaikan dan berkah dari Tuhan. Dalam Alkitab, Tuhan selalu mengaitkan berkah dengan kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya, karena Dia sendiri adalah Allah yang benar (Yeremia 10:10).

Kejujuran mencerminkan sifat Tuhan dalam diri kita
Ketika kita hidup dengan jujur, kita sedang membuat diri kita sebagai saluran berkah Tuhan – seperti air yang mengalir lancar tanpa ada halangan. Rasul Paulus menulis di Kolose 3:9 – “Jangan berbohong satu sama lain, karena kamu telah melepas diri dari orang lama beserta kelakuannya”. Berbohong seperti batu yang menyumbat saluran air – membuat aliran berkah terhenti dan bahkan menyakitkan orang lain.

Pribahasa Minahasa “Manguni dohot tunggu, mangale dohot tunggu” (“Yang dicuri akan selalu ditunggu kehilangannya, yang dicuri akan selalu ditunggu kembalinya”) mengingatkan kita bahwa perbuatan tidak jujur seperti air yang diambil dengan paksa – tidak akan bertahan lama dan pasti akan menghilang.

Tidak mengambil yang bukan hak kita sebagai penghormatan pada orang lain
Seperti air yang hanya dialirkan ke area yang sesuai, kita juga harus menghormati hak orang lain. Firman Tuhan sangat jelas dalam Keluaran 20:15 – “Jangan mencuri”. Ini tidak hanya tentang mengambil barang sembunyi-sembunyi, tetapi juga tentang tidak merampas atau mengklaim apa yang bukan milik kita.

Pribahasa Tionghoa “Shou dao qin lai” (“Hanya tangan yang mencapai dengan benar yang akan mendapatkan apa yang dicari”) mengajarkan bahwa apa yang kita dapatkan harus melalui usaha yang benar. Ketika kita menghormati batasan seperti air yang mengikuti saluran yang telah ditentukan, berkah Tuhan akan mengalir lancar ke dalam hidup kita dan hubungan kita dengan orang lain.

Seperti benih yang cocok dengan tanahnya akan tumbuh subur dan menghasilkan hasil yang melimpah, berkah Tuhan yang datang karena kejujuran akan selalu sesuai dengan kebutuhan kita dan rencana-Nya yang mulia. Kalimat “tidak salah alamat” mencerminkan keyakinan bahwa Tuhan mengatur setiap hal dengan baik bagi mereka yang mengasihi-Nya (Roma 8:28).

Contoh dalam Alkitab: Yakobus dan Yosua
Mereka dipercaya untuk memimpin bangsa Israel bukan karena mencari kekuasaan, tetapi karena hidup dengan jujur dan setia kepada Tuhan (Bilangan 27:18-23). Mereka tidak merampas kedudukan yang bukan hak mereka – seperti memilih benih yang tepat untuk tanah yang mereka garap – sehingga Tuhan memberkati mereka untuk menjalankan tugas besar dengan sukses.

Contoh dalam Alkitab: Rahab
Meskipun berasal dari kota yang dianggap tidak benar, dia memilih untuk hidup dengan jujur dengan menyembunyikan mata-mata Israel. Akhirnya, dia dan keluarganya diselamatkan dan menerima berkah dari Tuhan (Yosua 2:1-21) – seperti benih yang ditanam dengan baik akan tumbuh meskipun di tanah yang sulit.

Pribahasa Tionghoa “Ying de zhi cai, bu ying jiu bu qiu” (“Apa yang seharusnya kita dapatkan akan datang kepada kita, apa yang bukan milik kita jangan kita cari”) sangat sesuai dengan makna ini – bahwa berkah Tuhan seperti benih yang sesuai dengan tanah kita, akan tumbuh subur pada waktunya bagi mereka yang sabar dan hidup dengan benar.

Selain kejujuran, sikap iklas adalah hal yang membuat air tetap jernih dan benih tetap tumbuh subur. Iklas berarti melakukan segala sesuatu dengan tulus, bukan karena mencari pujian manusia atau keuntungan duniawi semata.

Matius 6:1 mengatakan – “Hati-hatilah, janganlah melakukan amal kebajikanmu di depan orang supaya kamu dilihat oleh mereka; kalau tidak, kamu tidak akan memperoleh balasan dari Bapamu yang di sorga”. Ketika kita melakukan kebaikan dengan iklas, kita seperti merawat sumber air agar tetap bersih dan menyirami benih agar tetap tumbuh – sehingga berkah Tuhan akan datang dengan cara yang lebih dalam dan abadi.

Pribahasa Minahasa “Lalengko ma lumba-lumba, lalengko ma tunggal” (“Baiknya lumba-lumba dilihat dari gerakannya, baiknya manusia dilihat dari hatinya”) mengingatkan kita bahwa sikap iklas yang ada di dalam hati akan membuat kejujuran kita tetap konsisten – seperti air yang tetap jernih karena sumbernya terjaga dengan baik.

Sikap iklas juga membantu kita tetap tegar dalam menjalani kejujuran. Ketika kita tidak mencari pujian pribadi, kita tidak akan mudah tergoda untuk mengambil jalan pintas – seperti tidak akan mengganti benih yang cocok dengan benih yang tidak pantas hanya karena ingin hasil cepat. Pribahasa Tionghoa “Zuo ren yao zuo zheng, xue zi yao xue gong” (“Menjadi manusia harus jujur, belajar harus sungguh-sungguh”) mengajarkan bahwa kejujuran dan kesungguhan adalah dasar untuk hidup yang berkualitas.

Seperti air yang tidak kering yang memberikan kehidupan dan benih yang tumbuh subur yang menghasilkan hasil melimpah, kejujuran dan sikap tidak mengambil yang bukan hak kita adalah jalan yang Tuhan sediakan agar kita bisa merasakan berkah-Nya yang melimpah.

Firman Tuhan di Mazmur 15:1-2 berkata – “Siapakah yang akan tinggal di rumah-Mu? Siapakah yang akan berdiam di gunung kudus-Mu? Orang yang jalan-Nya lurus, yang melakukan kebenaran dan berkata yang benar di dalam hatinya”.

Baik pribahasa Minahasa “Wae tu tombung ndao ndo, wae tu lanang ndao ma” maupun pribahasa Tionghoa “Chi xin shi cheng” kembali mengingatkan kita bahwa kejujuran adalah kunci untuk menerima berkah yang tidak pernah surut. Mari kita jaga aliran kejujuran dalam hati kita seperti air yang jernih, dan tanamkan sikap lurus seperti benih yang cocok dengan tanah – sehingga berkah Tuhan selalu menyertai langkah kita di setiap jalan yang kita tempuh.

Oleh Kefas Hervin Devananda

Tinggalkan Balasan