Tenang Saja, Hidupmu Tidak di Tangan Mereka
Yohanes 7:25–36
Ada masa dalam hidup ketika kita merasa sedang menjadi sasaran. Omongan orang mulai berubah. Tatapan tidak lagi ramah. Niat baik dicurigai. Kebenaran dipelintir. Pada titik itu, muncul satu pertanyaan sunyi di hati: “Sampai kapan aku harus bertahan?”
Yesus pernah berada di titik itu. Orang-orang Yerusalem memperdebatkan siapa Dia. Mereka bukan tidak tahu kebenaran—mereka tidak mau menerima kebenaran. Mukjizat mengagumkan mereka, tetapi pengakuan Yesus sebagai Anak Allah membuat mereka gelisah. Kekaguman berubah menjadi ancaman.
Mereka ingin menangkap Yesus. Namun Alkitab mencatat dengan tenang dan tegas:
“Tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.”
Kalimat ini bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah pengumuman iman.
Bayangkan seorang tukang perahu yang setiap hari menyeberangkan orang di sungai yang arusnya deras. Banyak penumpang panik saat melihat air bergejolak. Mereka berteriak, menyalahkan, bahkan menyuruh tukang perahu segera ke tepi. Namun sang tukang tetap tenang. Tangannya mantap memegang kemudi.
Ketika ditanya mengapa ia tidak panik, ia menjawab,
“Aku tahu arusnya, aku tahu batu-batunya, dan aku tahu kapan harus mendayung dan kapan harus membiarkan perahu mengikuti aliran.”
Penumpang boleh panik, tetapi nasib perahu tidak ditentukan oleh kepanikan mereka, melainkan oleh tangan yang memegang kemudi.
Begitulah hidup kita. Banyak suara di sekitar kita: ancaman, tuduhan, tekanan, bahkan niat jahat. Tetapi hidup kita tidak berada di tangan mereka. Hidup kita ada di tangan Tuhan yang memegang kendali waktu.
Lihatlah Yusuf. Ia dikhianati saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara. Jika Yusuf bereaksi dengan kemarahan atau kepanikan, hidupnya akan berhenti di penjara. Namun Yusuf memilih percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di balik ketidakadilan.
Waktu Yusuf belum tiba, ia tetap di penjara. Ketika waktunya tiba, tidak ada satu pun yang bisa menahannya. Dalam satu hari, ia diangkat dari tahanan menjadi pemimpin Mesir. Bukan karena pembelaan diri, tetapi karena waktu Tuhan dibuka.
Yesus, Yusuf, dan banyak tokoh iman mengajarkan hal yang sama:
Yang berbahaya bukan ancaman orang, tetapi kehilangan ketenangan saat Tuhan masih bekerja.
Sering kali kita ingin membuktikan diri terlalu cepat. Kita ingin membalas sebelum waktunya. Kita ingin meluruskan semua sekarang juga. Padahal iman yang dewasa tahu kapan harus melangkah dan kapan harus diam.
Menunggu bukan berarti lemah. Diam bukan berarti kalah. Tenang bukan berarti takut.
Tenang adalah tanda bahwa kita percaya: jika saat-Nya belum tiba, tidak ada yang bisa menyentuh hidup kita.
Jadi, jika hari ini kamu merasa disudutkan, difitnah, atau ingin menyerah, dengarkan kebenaran ini:
Tenang saja. Hidupmu tidak di tangan mereka. Hidupmu ada di tangan Tuhan.
Dan tangan Tuhan tidak pernah terlambat.
✍️ Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
GPIAI Filadelfia Bogor


