28 Januari: Refleksi Ulang Tahun Seorang Bapa dalam Perjalanan Perjuangan

Spread the love

28 Januari: Refleksi Ulang Tahun Seorang Bapa dalam Perjalanan Perjuangan

Cianjur – Tanggal 28 Januari selalu memiliki makna tersendiri bagi saya. Bukan semata sebagai penanda waktu, tetapi karena di tanggal inilah Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U., yang lahir pada 28 Januari 1950, kembali menambahkan satu tahun usia dalam perjalanan hidupnya. Tahun ini, beliau genap berusia 76 tahun—usia yang bagi banyak orang identik dengan masa rehat, tetapi bagi beliau justru tetap diisi dengan pengabdian dan perjuangan.

Saya mengenal beliau sejak tahun 1991, saat saya masih seorang remaja. Saat itu saya berada pada fase pencarian jati diri, arah hidup, dan makna keberadaan. Perlu saya sampaikan dengan jujur sejak awal: saya bukan murid beliau dalam arti jenjang pendidikan formal. Saya tidak pernah duduk di ruang kelasnya, tidak melalui kurikulum atau struktur akademik tertentu. Namun hidup saya dibentuk melalui perjumpaan, keteladanan, dan perjalanan yang nyata bersama.

Beliau hadir dalam hidup saya bukan sebagai figur yang menggurui, melainkan sebagai sosok yang menunjukkan bagaimana nilai dijalani. Dari cara beliau bersikap, melayani, dan memandang manusia—terutama mereka yang sering tersisih—saya belajar bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan tanggung jawab hidup yang harus diwujudkan dalam tindakan.

Salah satu pengalaman yang sangat membekas terjadi ketika beliau menjadi narasumber dalam kegiatan retreat gereja kami di kawasan Cibulan, Puncak. Dalam suasana yang sederhana dan reflektif, jauh dari hiruk-pikuk keseharian, saya mengalami perenungan yang mendalam. Di momen itulah saya mulai mengenal Tuhan secara pribadi dan mengambil keputusan untuk bertobat. Keputusan itu bukan reaksi emosional sesaat, melainkan titik awal perubahan arah hidup saya.

Sebagai seorang aktivis, saya memahami bahwa perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk kemenangan besar atau sorak-sorai. Ada perjuangan yang sunyi, panjang, dan sering kali penuh risiko. Hal itu saya saksikan secara langsung ketika beliau mendirikan dan memimpin Partai Damai Sejahtera (PDS).

Pada masa kepemimpinannya, PDS hadir sebagai ruang politik alternatif bagi banyak kalangan yang selama ini merasa tidak terwakili. Partai ini membuka ruang bagi aktivis sosial, tokoh lintas gereja, anak-anak muda, dan masyarakat akar rumput untuk terlibat dalam proses demokrasi. Di tengah iklim politik yang keras dan kerap pragmatis, PDS membawa semangat nilai: keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Prestasi PDS pada masa itu tidak semata diukur dari kursi atau angka elektoral. Lebih dari itu, PDS berhasil membangun jaringan nasional, mengikuti proses demokrasi secara sah, serta melahirkan kader-kader yang berani menyuarakan isu kemanusiaan, kebebasan beragama, dan keadilan sosial di ruang publik. Bagi kami yang terlibat langsung, PDS adalah ruang pembelajaran integritas.

Saya sendiri memilih bergabung dan menjadi bagian dari perjuangan tersebut. Dalam perjalanan itu, saya pernah mengawal beliau dalam berbagai peristiwa penting. Dari dekat saya menyaksikan dinamika, tekanan, perbedaan pandangan, dan keputusan-keputusan sulit yang tidak selalu terlihat di hadapan publik.

Hari ini, di usia 76 tahun, semangat perjuangan itu tidak berhenti. Saat ini, beliau sedang membangun sebuah Rumah Perjuangan baru bernama Partai Setara Indonesia (SETARA). Bagi saya, langkah ini bukan pengulangan masa lalu, melainkan kelanjutan dari panggilan hidup yang konsisten—keyakinan bahwa politik harus tetap memberi ruang bagi kesetaraan, martabat manusia, dan keberpihakan pada nilai.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam dunia politik, tidak ada sosok yang lepas dari pro dan kontra. Begitu pula dengan beliau. Ada yang mendukung, ada yang mengkritik, bahkan ada yang meragukan langkah-langkahnya. Itu adalah realitas yang tidak saya nafikan.

Namun alasan saya masih percaya hingga hari ini sederhana sekaligus mendasar. Saya mengenal beliau bukan dari pemberitaan atau panggung politik, tetapi sejak tahun 1991—jauh sebelum semua itu. Dan setelah lebih dari tiga dekade berlalu, saya masih melihat orang yang sama.

Nilai yang ia pegang tidak berubah. Cara ia memperlakukan orang tidak berubah. Kepeduliannya terhadap mereka yang tersingkir tetap sama. Jika ada perubahan, itu bukan pada prinsipnya, melainkan pada kedewasaan dan pengalaman hidupnya.

Sebagai seorang aktivis, saya belajar bahwa kepercayaan tidak dibangun dari kesempurnaan, melainkan dari konsistensi. Dan konsistensi itulah yang saya lihat pada diri beliau—dari pertama kali saya mengenalnya sebagai remaja, hingga hari ini ketika ia tetap berdiri dan melangkah.

Selamat bertambah usia ke-76,
Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U.
(28 Januari 1950)

Dan selama saya masih melihat orang yang sama itu berdiri,
saya tahu mengapa saya masih percaya.


Dituturkan oleh:
Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
kepada Redaksi


Tinggalkan Balasan