
Pelitakota.id – Ada satu ironi yang jarang kita sadari, tetapi nyata terjadi:
Tuhan selalu bergerak menuju mereka yang membutuhkan, sementara manusia sering bergerak menuju mereka yang menguntungkan.
Yesus turun.
Kita justru memilih naik.
Ia mendatangi yang terluka.
Kita mendekati yang berkuasa.
Dan tanpa sadar, arah hati kita mulai berlawanan dengan arah hati Tuhan.
Dalam Injil, Yesus tidak berkeliling mencari orang paling berpengaruh.
Ia justru berkata:
“Roh Tuhan ada pada-Ku… untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.” (Lukas 4:18)
Ia hadir bagi:
- yang lapar
- yang sakit
- yang berdosa
- yang ditolak
Dan Ia menegaskan:
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” (Markus 2:17)
Artinya jelas:
Tuhan bergerak ke arah kebutuhan, bukan ke arah keuntungan.
Tanpa kita sadari, cara pandang kita sering tidak lagi sama dengan Kristus.
Terkadang kita manusia hanya menghargai orang yang memiliki status sosial yang baik, memiliki kekuasaan, atau berharta.
Kita lebih cepat menghormati yang “punya nama”.
Lebih ramah kepada yang berpengaruh.
Lebih menghargai yang terlihat berhasil.
Sementara yang sederhana, yang biasa, yang tidak punya apa-apa—sering terlewat.
Padahal firman Tuhan sudah mengingatkan:
“Janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” (Yakobus 2:1)
Ini bukan sekadar kebiasaan sosial.
Ini adalah persoalan hati.
Masalahnya menjadi lebih dalam ketika pelayanan mulai dipengaruhi oleh keuntungan.
Relasi menjadi alat.
Perhatian menjadi selektif.
Kasih menjadi bersyarat.
Kita tidak lagi bertanya:
“Siapa yang membutuhkan?”
Tetapi:
“Siapa yang menguntungkan?”
Padahal Yesus mengajarkan:
“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40)
“Ana dhuwit, ana kanca.”
(Ada uang, ada teman.)
Kalimat ini sederhana, tetapi jujur menggambarkan banyak relasi hari ini.
Namun kasih Kristus tidak dibangun di atas manfaat,
melainkan pada pengorbanan.
Jika kita hanya menghargai orang karena status, kekuasaan, atau harta, maka kita sedang menjauh dari cara Tuhan memandang manusia.
Tuhan tidak pernah salah arah.
Ia selalu menuju yang membutuhkan.
Pertanyaannya:
apakah kita masih berjalan searah dengan Tuhan?
Atau kita sudah berbelok… tanpa sadar?
Karena pada akhirnya, iman tidak diukur dari apa yang kita katakan,
tetapi dari siapa yang kita dekati.
Tuhan datang kepada yang membutuhkan. Jika kita hanya menghargai yang berstatus dan menguntungkan, kita sedang berjalan ke arah yang berbeda dari Tuhan.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI



