
Depok – Momentum Lebaran 1447 Hijriah benar-benar dimanfaatkan para jurnalis di Kota Depok untuk melakukan “restart” solidaritas. Dalam suasana hangat Halal Bihalal yang digelar Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Kota Depok, satu pesan menguat dan menggema: tak boleh ada lagi sekat antar wartawan.
Bertempat di kediaman Ketua SWI Depok di kawasan Pasir Putih, Sawangan, Rabu (25/3/2025), pertemuan ini bukan sekadar makan bersama dan saling memaafkan. Di balik suasana santai, terselip kegelisahan yang sama—tentang tekanan, tantangan, hingga realita keras yang kerap dihadapi jurnalis di lapangan.
Sejumlah tokoh pers lintas organisasi tampak hadir, mulai dari PWOIN, Pewarna, KJD, Pokja hingga perwakilan SWI Pusat. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat: perbedaan organisasi bukan lagi penghalang untuk bersatu.
Dari Silaturahmi Jadi Konsolidasi
Ketua SWI Depok, Yenni, menegaskan bahwa Halal Bihalal ini harus menjadi titik balik bagi wartawan Depok.
“Ini bukan hanya soal maaf-maafan. Ini tentang bagaimana kita ke depan bisa lebih solid dan tidak terpecah,” ujarnya.
Nada yang sama juga disuarakan oleh para pimpinan organisasi wartawan lainnya. Mereka sepakat, selama ini sekat organisasi kerap menjadi penghambat kekuatan besar jurnalis.
Ancaman Nyata: Intimidasi hingga Kriminalisasi
Ketua PWOIN Depok, Benny Gerungan, berbicara lugas soal kondisi di lapangan. Ia menyebut tekanan terhadap wartawan bukan lagi cerita baru—mulai dari intimidasi, diskriminasi hingga kriminalisasi.
Namun ia menegaskan, solusi utamanya hanya satu: persatuan.
“Kalau kita terpecah, kita lemah. Tapi kalau kita bersatu, tidak mudah untuk ditekan,” tegasnya.
Pernyataan ini langsung mendapat respons positif dari para wartawan yang hadir, seolah menjadi alarm bahwa profesi ini sedang tidak baik-baik saja.
Wartawan Tak Cukup Hanya Menulis
Ketua KJD Depok, Johannes Hutapea, bahkan melangkah lebih jauh. Ia menantang para wartawan untuk keluar dari zona nyaman.
Menurutnya, wartawan tidak boleh hanya hadir lewat tulisan, tetapi juga melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
“Kita harus bikin program bersama. Tunjukkan eksistensi kita, bukan hanya di berita, tapi di kehidupan sosial,” katanya.
Saatnya Naik Level
Sastrawan Sihar Ramses Simatupang menambahkan, kualitas jurnalis harus ikut naik seiring dengan tantangan zaman.
Ia mendorong lahirnya gerakan intelektual di kalangan wartawan—mulai dari diskusi, seminar, hingga penulisan buku.
“Profesionalitas itu bukan pilihan, tapi keharusan,” ujarnya.
Pesan Kuat: Bersatu atau Tertinggal
Dari pertemuan ini, satu kesimpulan tak terbantahkan:
wartawan Depok sedang berada di persimpangan—bersatu dan kuat, atau terpecah dan mudah ditekan.
Halal Bihalal SWI Depok pun menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia berubah menjadi momentum kebangkitan—sebuah awal untuk membangun kekuatan kolektif insan pers tanpa ego sektoral.
Dan jika komitmen ini benar-benar dijalankan, bukan tidak mungkin Depok akan menjadi contoh baru:
kota dengan jurnalis yang solid, berani, dan tak mudah dibungkam.
Sumber: Yusd
Editor: Romo Kefas
Tim Redaksi



