
Pelitakota.id – Ada satu kalimat rohani yang sering kita dengar:
“Di hadapan Tuhan, semua manusia sama.”
Amin. Setuju. Terdengar indah.
Tapi coba lihat kenyataan.
Kalau yang datang orang penting—langsung disambut di depan.
Kalau yang datang orang biasa—cukup duduk di belakang saja.
Kalau yang berbicara orang berjabatan—semua diam mendengar.
Kalau yang bicara orang sederhana—sering dianggap angin lalu.
Jadi sebenarnya kita percaya semua sama…
atau cuma mengucapkannya saja?
Kita bilang tidak pilih kasih.
Tapi sikap kita sering berkata sebaliknya.
Orang kaya? Disapa duluan.
Orang berpengaruh? Dicari tempat duduk terbaik.
Orang “punya nama”? Dianggap penting.
Sementara yang tidak punya apa-apa?
Ya… sekadar lewat saja.
Lucunya, kita merasa ini hal biasa.
Padahal Alkitab menyebutnya sebagai masalah serius.
Yakobus tidak berbasa-basi:
jangan memandang muka.
Artinya?
jangan perlakukan orang berbeda hanya karena statusnya.
Tapi kenyataannya, kita justru sangat pandai melakukan itu—secara halus, sopan, dan “rohani”.
Mari jujur sedikit.
Kita sering menghormati orang bukan karena dia berharga,
tetapi karena kita bisa “dapat sesuatu” dari dia.
Relasi jadi alat.
Orang jadi peluang.
Pergaulan jadi strategi.
Dan tanpa sadar, kita mulai menilai manusia dengan pertanyaan:
“Orang ini ada manfaatnya buat saya atau tidak?”
Kalau ada—kita dekat.
Kalau tidak—kita lewat.
Ini bukan kasih.
Ini transaksi.
Kalau Yesus hidup dengan pola kita hari ini,
mungkin Dia hanya akan berkumpul dengan orang penting.
Tapi faktanya?
Ia justru dekat dengan mereka yang dianggap tidak penting.
Ia makan dengan orang berdosa.
Ia menyentuh yang dijauhi.
Ia berbicara dengan yang diabaikan.
Bagi Yesus, manusia bukan dinilai dari status—
tetapi dari hati.
Dan di situlah kita mulai tidak nyaman.
“Ajining diri ana ing lathi, ajining rogo ana ing busono.”
Tapi kita sering membaliknya.
Kita lebih percaya “busono” (penampilan, status),
daripada “lathi” (isi hati, karakter).
Yang penting terlihat hebat—
urusan hati belakangan.
Menghormati Tuhan di gereja itu mudah.
Menghargai manusia tanpa melihat status—itu yang sulit.
Di sinilah iman diuji.
Bukan saat kita menyanyi.
Bukan saat kita berdoa.
Tapi saat kita bertemu orang yang “tidak menguntungkan” bagi kita.
Apakah kita tetap menghargai?
Atau kita berubah sikap?
Kalau kita hanya menghormati orang yang “punya nilai” menurut dunia, mungkin yang perlu diperbaiki bukan orang lain—tetapi hati kita sendiri.
Kita bisa terus berkata semua manusia sama di hadapan Tuhan.
Tapi kalau sikap kita masih membeda-bedakan,
maka yang kita miliki bukan iman—
melainkan kebiasaan religius.
Karena iman yang benar tidak hanya diucapkan,
tetapi terlihat dari cara kita memperlakukan manusia.
Selama kita masih memilih siapa yang layak dihormati, kita belum benar-benar mengerti bagaimana Tuhan menghargai manusia.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI



