
Ketika Pujian Menjadi Formalitas: Menguji Kejujuran Iman di Era Serba Instan
Pelitakota.id – Di tengah geliat kehidupan modern yang serba cepat dan pragmatis, ekspresi religius sering kali tampil megah, ramai, bahkan emosional. Namun di balik gemuruh pujian dan seruan syukur yang terdengar di berbagai ruang ibadah, muncul pertanyaan mendasar yang jarang disuarakan secara jujur: apakah pujian kepada Tuhan masih lahir dari kesadaran iman, atau sekadar menjadi rutinitas spiritual tanpa kedalaman makna?
Fenomena religiusitas yang semakin populer di ruang publik tidak selalu berjalan seiring dengan kedalaman spiritual. Dalam banyak kasus, iman justru mengalami pergeseran orientasi—dari relasi kepada Tuhan menjadi relasi dengan berkat yang diharapkan dari Tuhan. Pujian sering kali hadir sebagai respons terhadap kenyamanan hidup, tetapi memudar ketika realitas kehidupan menghadirkan tekanan dan penderitaan.
Padahal, tradisi iman Kristen sejak awal menempatkan pujian sebagai sikap spiritual yang tidak bergantung pada situasi. Kitab Mazmur menegaskan, “Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi” (Mazmur 100:1). Seruan ini menunjukkan bahwa pujian bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan keputusan iman yang berdiri di atas pengakuan akan kedaulatan Tuhan.
Dalam perspektif teologi, ucapan syukur tidak pernah dimaksudkan sebagai reaksi sesaat, melainkan sebagai fondasi karakter rohani. Rasul Paulus bahkan menegaskan, “Mengucap syukurlah dalam segala hal” (1 Tesalonika 5:18). Pernyataan ini mengandung dimensi etis sekaligus spiritual—bahwa kedewasaan iman diukur dari konsistensi sikap bersyukur, bukan dari kondisi hidup yang menguntungkan.
Tantangan terbesar gereja dan umat beriman masa kini adalah kecenderungan menjadikan Tuhan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan, bukan sebagai pusat kehidupan. Pola ini menciptakan relasi spiritual yang rapuh. Ketika harapan tidak terpenuhi, kekecewaan mudah berubah menjadi keraguan bahkan penolakan iman.
Yesus sendiri pernah menyoroti kecenderungan tersebut ketika menegur orang banyak yang mengikuti-Nya hanya karena kebutuhan jasmani mereka terpenuhi (Yohanes 6:26). Teguran ini tidak sekadar relevan secara historis, tetapi juga mencerminkan realitas spiritual masyarakat religius modern yang kerap mengukur kehadiran Tuhan melalui parameter keberhasilan material.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, spiritualitas yang berorientasi pada kenyamanan berpotensi melemahkan ketahanan moral umat beriman. Ketika iman hanya bertumbuh dalam suasana nyaman, maka daya tahan rohani mudah runtuh ketika menghadapi krisis—baik krisis ekonomi, konflik sosial, maupun tekanan kehidupan pribadi.
Sebaliknya, sejarah iman menunjukkan bahwa spiritualitas yang kokoh justru lahir dari proses pergumulan. Tokoh-tokoh iman dalam Alkitab, termasuk Raja Daud, memperlihatkan bahwa pujian kepada Tuhan sering kali lahir dari situasi penderitaan. Daud tetap memuji Tuhan ketika menghadapi pengkhianatan, ancaman pembunuhan, dan tekanan psikologis yang berat. Pengalaman tersebut menegaskan bahwa pujian bukan hasil dari keadaan ideal, melainkan buah dari pengenalan akan karakter Allah.
Realitas ini menjadi refleksi penting bagi kehidupan gereja masa kini. Gereja tidak hanya dipanggil menjadi ruang penguatan spiritual, tetapi juga ruang pembentukan karakter iman yang tahan uji. Spiritualitas yang dewasa tidak lahir dari janji keberhasilan semata, melainkan dari kesadaran bahwa Tuhan tetap berdaulat dalam setiap dinamika kehidupan manusia.
Dalam kerangka sosial-keagamaan Indonesia yang plural dan dinamis, sikap bersyukur juga memiliki dimensi etis yang luas. Umat beriman yang hidup dalam syukur cenderung memiliki ketahanan moral, empati sosial, serta kemampuan membangun harmoni di tengah perbedaan. Syukur bukan hanya praktik liturgis, tetapi juga fondasi etika sosial yang membentuk karakter masyarakat yang sehat.
Pada akhirnya, pujian kepada Tuhan bukan sekadar ekspresi religius, tetapi indikator kejujuran iman. Pujian yang sejati tidak ditentukan oleh situasi yang menyenangkan, melainkan oleh kesadaran bahwa Tuhan tetap layak dimuliakan dalam segala keadaan.
Dalam dunia yang semakin menilai segala sesuatu berdasarkan hasil instan, iman yang tetap bersyukur menjadi kesaksian spiritual yang kuat. Sebab, spiritualitas yang berakar pada pengenalan akan Tuhan tidak mudah digoyahkan oleh perubahan zaman maupun tekanan kehidupan.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K



