
Pelitakota id
Tidak semua kerinduan datang dengan suara.
Ada yang datang pelan…
diam-diam…
tapi menghantam begitu dalam.
Setiap kali musim mudik tiba, saya selalu merasakan hal itu. Jalanan ramai, kendaraan padat, orang-orang sibuk pulang. Dunia seperti bergerak ke satu arah: kembali.
Dan tanpa sadar, hati saya ikut berjalan ke arah yang sama.
Padahal kami tidak merayakan Lebaran.
Namun ada satu tempat yang selalu terlintas: Karangpandan, Karanganyar. Dusun Geneng—kampung kecil yang dulu tidak pernah terasa kecil, karena di sanalah hidup pernah terasa begitu penuh.
Dulu, kami tidak pernah menyebutnya “momen berharga”.
Kami hanya menjalaninya.
Datang, disambut, duduk, makan, tertawa—begitu saja. Sederhana. Biasa.
Tapi justru di situlah letak keindahannya.
Rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Selalu ada suara yang hidup.
Suara ibu yang memanggil.
Suara bapak yang menyambut.
Suara keluarga yang saling bersahutan tanpa perlu alasan.
Tidak ada acara besar.
Tidak ada yang direncanakan secara khusus.
Kadang kami hanya duduk lama, bercerita hal-hal sederhana.
Kadang pergi bersama saudara, sekadar berjalan tanpa tujuan.
Kadang hanya makan malam… tapi tidak pernah terasa biasa.
Karena semuanya dilakukan bersama.
Dan selama mereka masih ada, semuanya terasa lengkap.
Tidak ada yang kurang.
Tidak ada yang perlu dicari.
Waktu itu, saya tidak pernah berpikir bahwa suasana seperti itu bisa hilang.
Sampai tahun 2020 datang…
dan perlahan, semuanya berubah.
Sejak kepergian Bapak dan Ibu mertua, saya mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—bukan kehilangan tempat, tetapi kehilangan suasana.
Karangpandan masih sama.
Dusun Geneng tetap seperti dulu.
Rumah itu masih berdiri.
Namun begitu kami datang… rasanya berbeda.
Sunyi.
Bukan karena tidak ada orang,
tetapi karena tidak ada lagi kehadiran yang dulu membuat semuanya hidup.
Tidak ada lagi yang menunggu dengan cara yang sama.
Tidak ada lagi yang menyambut dengan rasa yang sama.
Dan sejak itu, saya mulai mengerti…
Bahwa yang membuat sebuah kampung halaman terasa “hidup”, bukan bangunannya.
Bukan jalannya.
Bukan letaknya.
Tetapi orang-orang di dalamnya.
Kini, setiap kali musim mudik tiba, saya tidak lagi memikirkan perjalanan. Saya memikirkan kenangan.
Saya mengingat suara-suara itu.
Saya mengingat meja makan yang dulu penuh.
Saya mengingat tawa yang dulu terasa biasa… tapi kini begitu mahal.
Dan terkadang, kerinduan itu membawa kami kembali.
Bukan untuk berkumpul seperti dulu,
tetapi untuk berdiri di depan makam mereka.
Diam.
Mengingat.
Merasakan.
Tidak ada kata-kata.
Hanya hati yang berbicara.
Dan di situlah saya sadar…
Kami tidak benar-benar kehilangan kampung halaman.
Kampung itu masih ada.
Masih bisa dikunjungi.
Masih bisa dilihat.
Namun yang kami rindukan… tidak lagi berada di sana.
Yang kami rindukan adalah kehidupan yang pernah mengisinya.
Kehangatan yang pernah tinggal di dalamnya.
Dan cinta yang dulu membuat semuanya terasa utuh.
Kini, kampung halaman itu tetap berdiri.
Namun bagi kami, ia bukan lagi sekadar tempat.
Ia adalah ruang kenangan—
tempat di mana kami pernah hidup sepenuhnya,
dan tempat di mana rindu akan selalu kembali,
meski yang dirindukan… tidak lagi menunggu.
Diceritakan oleh Romo Kefas kepada Redaksi.



