
DI SAAT NEGARA JAUH, SEORANG PENDETA HADIR: PERJUANGAN SENYAP MENYELAMATKAN NYAWA DI PEDALAMAN SULTENG
Donggala, Sulawesi Tengah — Di sebuah dusun yang nyaris tak tersentuh pembangunan, jeritan sakit sering kali harus ditahan dalam diam. Dusun Oyu, Desa Mbulawa, Kecamatan Rio Pakava, bukan hanya jauh dari kota—tetapi juga jauh dari perhatian.
Ketika penyakit malaria menyerang tiga warga secara bersamaan, keadaan berubah menjadi darurat. Tidak ada ambulans. Tidak ada akses jalan yang layak. Tidak ada fasilitas yang siap siaga.
Yang ada hanyalah keterbatasan… dan harapan yang menipis.
Salah satu pasien, Yan Parta Wijaya, terbaring lemah. Tubuhnya tak lagi mampu bertahan tanpa pertolongan medis. Waktu berjalan, dan setiap detik menjadi penentu hidup atau mati.
Di tengah situasi itu, satu sosok memilih untuk tidak berpangku tangan.
Pdt. Adi Sihotang.
Tanpa perlengkapan medis, tanpa dukungan fasilitas, ia mengambil keputusan yang tidak mudah—mengangkut pasien dengan sepeda motor melewati jalan setapak yang berbahaya. Medan terjal, jalur sempit, dan risiko kecelakaan menjadi bagian dari perjalanan.
Namun baginya, satu hal lebih penting: nyawa manusia.
Perjalanan menuju puskesmas bukan sekadar jarak, tetapi ujian keberanian. Setelah mendapat penanganan awal, pasien dirujuk ke RSUD Ako Pasangkayu. Tapi perjuangan belum selesai.
Di rumah sakit, ketika pasien-pasien itu sendirian tanpa keluarga, Pdt. Adi tetap tinggal.
Ia menjadi lebih dari sekadar pendeta.
Ia menjadi penjaga malam, tangan yang menyuapi, yang memberi obat, yang mengganti pakaian, bahkan yang merawat kebutuhan paling dasar pasien tanpa rasa jijik atau lelah.
Semua dilakukan untuk orang-orang yang bahkan baru dikenalnya.
Inilah wajah kemanusiaan yang sesungguhnya.
Bukan pidato. Bukan janji. Tapi tindakan.
Namun di balik kisah penuh kasih ini, tersimpan ironi yang tak bisa diabaikan. Dusun Oyu masih hidup dalam keterisolasian—tanpa listrik, dengan akses jalan yang memprihatinkan, dan jembatan gantung yang mengancam keselamatan setiap hari.
Pertanyaannya sederhana, tapi menohok:
Sampai kapan masyarakat pedalaman harus berjuang sendiri?
Melalui pengabdiannya, Pdt. Adi bukan hanya menyelamatkan pasien—ia juga menyuarakan realita yang sering luput dari perhatian.
Bahwa di balik gemerlap pembangunan, masih ada wilayah yang tertinggal.
Bahwa di saat sistem belum hadir sepenuhnya, kemanusiaanlah yang menjadi penolong pertama.
Dan di Dusun Oyu, kemanusiaan itu memiliki nama:
Pdt. Adi Sihotang.
(EL)



