
“Di Antara Doa dan Kenangan, Aku Masih Mencarimu, Ma…”
Pelitakota.id – Ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Ia tidak berteriak, tidak juga selalu menangis. Ia hanya diam… tetapi terasa berat setiap hari.
Sejak mama berpulang pada 10 Januari 2023, hidup seperti tetap berjalan, namun hatiku seperti kehilangan arah pulang. Dunia di sekelilingku tetap ramai, waktu terus bergerak tanpa menunggu, tetapi di dalam diriku, ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi.
Aku anak sulung dari tujuh bersaudara.
Sejak kecil aku diajarkan untuk menjadi kuat, menjadi pelindung, menjadi sandaran ketika keluarga goyah. Mama selalu berkata bahwa anak sulung harus menjadi teladan, harus menjadi bahu tempat keluarga bersandar.
Aku berusaha menjalani itu semua, Ma…
Aku berusaha menjadi anak yang kau banggakan.
Namun setelah mama pergi, aku baru menyadari satu hal yang tidak pernah kupahami sebelumnya…
Ternyata, sekuat apa pun seorang anak sulung, ia tetap membutuhkan ibunya.
Sekarang aku telah memiliki keluarga sendiri. Aku memiliki pasangan hidup yang setia berjalan bersamaku. Aku memiliki seorang anak yang hampir beranjak dewasa. Aku belajar menjadi ayah, belajar menjadi pemimpin dalam rumah tangga.
Tetapi ada satu peran yang tidak pernah bisa kugantikan dalam hidupku…
Peran sebagai anak yang masih merindukan pelukan mamanya.
Ada malam-malam ketika aku terbangun tanpa alasan.
Ada saat-saat ketika aku ingin bercerita tentang lelah, tentang takut, tentang kegagalan… tetapi aku hanya bisa menatap kosong, karena tempatku mengadu sudah pulang lebih dulu kepada Tuhan.
Yang paling menyakitkan dari kehilangan bukanlah hari pemakaman.
Yang paling menyakitkan adalah hari-hari setelahnya…
Ketika kenangan datang tanpa diundang.
Ketika suara mama terasa begitu dekat, tetapi tidak pernah bisa lagi kudengar.
Mama adalah rumah yang tidak pernah menanyakan kenapa aku terluka.
Mama adalah tempat di mana aku boleh gagal tanpa takut kehilangan kasih.
Sekarang aku sering bertanya dalam doa…
Apakah mama melihatku dari surga?
Apakah mama tahu bahwa aku masih berusaha menjadi anak yang pernah ia doakan setiap malam?
Kerinduan ini kadang terasa seperti luka yang tidak sembuh.
Tetapi perlahan aku belajar… luka ini juga mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya.
Kerinduan ini membuatku lebih menghargai keluarga yang Tuhan percayakan kepadaku sekarang.
Kerinduan ini mengajarkanku bagaimana mencintai anakku seperti mama mencintaiku dulu — tanpa syarat, tanpa batas.
Ma…
Jika waktu bisa diputar kembali, mungkin aku ingin memeluk mama lebih lama.
Mungkin aku ingin lebih sering berkata terima kasih.
Mungkin aku ingin lebih sering pulang, hanya untuk duduk dan mendengar mama bercerita tentang hal-hal sederhana.
Sekarang semua itu hanya tinggal kenangan…
Kenangan yang sering membuatku tersenyum sekaligus menangis dalam waktu yang bersamaan.
Dan aku percaya…
Cinta seorang ibu tidak pernah berakhir.
Ia hanya berubah bentuk… menjadi doa yang menjaga dari kejauhan, menjadi kenangan yang hidup di dalam hati, dan menjadi kekuatan yang menuntun langkah ketika aku hampir menyerah.
Jika suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kita kembali, aku tidak ingin membawa cerita tentang keberhasilanku. Aku hanya ingin membawa satu pengakuan sederhana…
“Ma… aku sudah berusaha menjalani hidup dengan baik… walaupun aku masih sering merindukanmu.”
Dan sampai hari itu tiba…
Aku akan terus berjalan, membawa nama mama dalam setiap doa, dalam setiap langkah, dan dalam setiap cinta yang aku berikan kepada keluargaku.
Karena bagiku…
Mama tidak pernah benar-benar pergi.
Mama hanya berpindah tempat…
Dari pelukan yang bisa kurasakan, menjadi cinta yang tinggal di dalam jiwaku selamanya.



